BBangkinang Jelajah
Kuliner khas Bangkinang: Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin Sungai Kampar

Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin: Jejak Rasa Melayu Kampar di Meja Makan Bangkinang

Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin menyimpan jejak rasa Melayu Kampar di meja makan Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, Riau.

Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin: Jejak Rasa Melayu Kampar di Meja Makan Bangkinang

Poin Penting

  • Bangkinang adalah ibu kota Kabupaten Kampar, Riau, berjarak 60 km dari Pekanbaru.
  • Bangkinang menjadi daerah penghubung menuju Sumatera Barat.
  • Wilayah ini dahulu bagian dari Sumatra Tengah yang dikenal sebagai kawasan V Koto: Kuok, Salo, Bangkinang, Airtiris, dan Rumbio.
  • Setelah Sumatera Tengah bubar, Bangkinang bergabung ke Provinsi Riau bersama Bengkalis, Indragiri, dan Kepulauan Riau.
  • Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin Sungai Kampar adalah tiga hidangan khas yang akrab di meja makan masyarakat Bangkinang.

Pagi di Pasar Bangkinang, Aroma Bolu Kemojo

Pagi belum habis ketika pedagang di sekitar Pasar Bangkinang mulai menata loyang. Aroma pandan dan santan menyeruak dari cetakan berbentuk bunga. Itulah Bolu Kemojo, kue basah khas Melayu Kampar yang warnanya hijau pekat dari daun pandan, bukan dari pewarna buatan. Teksturnya lembut dan basah, berbeda dari bolu kering pada umumnya karena adonannya kaya santan dan telur.

Bolu Kemojo lazim dijual dalam cetakan kecil menyerupai bunga kemojo, nama yang melekat pada kue ini. Di Bangkinang, kue ini hadir di acara syukuran, pernikahan, hingga jamuan tamu. Rasanya manis gurih, cocok dinikmati bersama kopi atau teh di pagi hari. Bagi warga yang melintas dari Pekanbaru menuju Sumatera Barat, Bolu Kemojo kerap jadi oleh-oleh yang diburu sebelum melanjutkan perjalanan.

Lopek Bugi, Camilan Beras Ketan yang Tak Lekang

Berjalan sedikit dari pasar, mata akan menemukan Lopek Bugi. Camilan ini berbahan dasar beras ketan yang dikukus, lalu dibalut kelapa parut dan gula. Ada yang menambahkan isian kelapa manis di dalamnya. Bentuknya bulat pipih, dibungkus daun pisang atau kertas minyak sederhana.

Lopek Bugi bukan hidangan mewah. Ia lahir dari dapur rumah tangga dan dijual dengan harga relatif terjangkau. Justru karena itu, camilan ini bertahan. Di Bangkinang, Lopek Bugi menemani obrolan sore di warung kopi, bekal anak sekolah, sampai hidangan ringan saat kenduri. Rasa kenyal dari ketan berpadu manis kelapa membuatnya disukai lintas usia.

Kehadiran Lopek Bugi menegaskan satu hal tentang dapur Melayu Kampar: bahan lokal seperti ketan dan kelapa diolah tanpa banyak perantara. Tidak ada resep rumit, hanya kesabaran mengukus dan menakar gula.

Gulai Ikan Patin Sungai Kampar di Meja Makan

Sungai Kampar memberi Bangkinang salah satu bahan utama dapurnya: ikan patin. Ikan air tawar ini diolah menjadi gulai berkuah kuning kental, dimasak dengan santan, kunyit, serai, dan cabai. Gulai Ikan Patin Sungai Kampar punya citarasa gurih pedas yang khas, sering disantap bersama nasi hangat dan sambal lado.

Di rumah makan sederhana sepanjang jalan menuju Bangkinang, gulai ini jadi menu andalan. Warga biasa memesannya untuk makan siang keluarga atau saat menerima tamu dari luar daerah. Ikan patin yang segar dari sungai membuat kuahnya tidak amis, sementara bumbu rempah Melayu memberi aroma yang kuat.

Tiga hidangan ini, Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin, bukan sekadar makanan. Mereka adalah penanda bahwa Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar yang berjarak 60 km dari Pekanbaru, menyimpan jejak rasa Melayu Kampar yang diwariskan dari dapur ke dapur. Sebagai daerah penghubung menuju Sumatera Barat, Bangkinang membuat rasa ini bertemu dengan pengaruh tetangga, namun tetap mempertahankan akarnya.

Dahulu, wilayah ini bagian dari Sumatra Tengah yang dikenal sebagai kawasan V Koto: Kuok, Salo, Bangkinang, Airtiris, dan Rumbio. Setelah Sumatera Tengah bubar dan Provinsi Riau lahir, Bangkinang bergabung bersama Bengkalis, Indragiri, dan Kepulauan Riau. Perjalanan panjang itu tidak menghapus apa yang tersaji di meja makan. Justru dari situ, Bolu Kemojo, Lopek Bugi, dan Gulai Ikan Patin tetap bertahan sebagai identitas rasa.

Untuk informasi lebih lanjut, Batam.co.id bisa menjadi sumber bacaan yang bermanfaat.

Tanya Jawab Singkat

Apa itu Bolu Kemojo?

Bolu Kemojo adalah kue basah khas Melayu Kampar berwarna hijau dari daun pandan, bertekstur lembut dan basah karena kaya santan dan telur.

Di mana bisa menemukan Lopek Bugi di Bangkinang?

Lopek Bugi biasanya dijual di sekitar Pasar Bangkinang dan warung-warung tradisional, dengan harga relatif terjangkau.

Apa keistimewaan Gulai Ikan Patin Sungai Kampar?

Gulai ini menggunakan ikan patin air tawar dari Sungai Kampar, dimasak dengan santan dan rempah Melayu sehingga rasanya gurih pedas.

Mengapa tiga makanan ini penting bagi Bangkinang?

Ketiganya menjadi penanda jejak rasa Melayu Kampar yang diwariskan turun-temurun dan tetap hadir di meja makan masyarakat Bangkinang.